- Kualifikasi (1000 jam -> 200 hari -> 6,6 bulan)
- Identifikasi masalah (Research Question) state of the art (200 jam)
- Mempelajari beragam paper, jurnal hingga disertasi terkait
- Teori-teori pendukung (premises) (100 jam)
- Hipotesis (150 jam)
- Tools yang diperlukan (200 jam)
- Publikasi paper di seminar (prosiding) nasional (150 jam)
- Diskusi dengan peneliti nasional
- Seminar I (800 jam -> 160 hari -> 5,3 bulan)
- Konsep sistem yang dikembangkan (200 jam)
- Mengkritisi beragam paper, jurnal terkait
- Model formal dasar (150 jam)
- Skenario cara kerja (75 jam)
- Performansi sistem (75 jam)
- Sasaran novelty (150 jam)
- Publikasi paper di seminar (prosiding) nasional (150 jam)
- Diskusi dengan peneliti nasional
- Seminar II (800 jam -> 160 hari -> 5,3 bulan)
- Algoritma dan coding (300 jam)
- Mengumpulkan bahan uji simulasi
- Percobaan/Simulasi (200 jam)
- Analisis hasil-hasil awal (100 jam)
- Publikasi paper di seminar (prosiding) internasional (100 jam)
- Diskusi dengan peneliti internasional
- Seminar III (800 jam -> 160 hari -> 5,3 bulan)
- Integrasi sistem (150 jam)
- Analisis lengkap (validasi & verifikasi) (200 jam)
- Perbandingan dengan sistem/penelitian sejenis (150 jam)
- Perbaikan (100 jam)
- Coding, simulasi
- Publikasi paper di jurnal nasional/internasional (200 jam)
- Diskusi dengan peneliti nasional/internasional
- Seminar IV (800 jam -> 160 hari -> 5,3 bulan)
- Hasil simulasi akhir atau prototipe sistem (400 jam)
- Analisis lengkap dan kontribusi (200 jam)
- Menguatkan bahwa kontribusi memiliki pengaruh baik
- Kesimpulan (conclusion) (100 jam)
- Publikasi paper di jurnal internasional (200 jam)
- Diskusi dengan peneliti internasional
- Revisioning dan sidang tertutup (800 jam -> 160 hari -> 5,3 bulan)
- Penulisan disertasi lengkap (400 jam)
- Reviewing dan revisi (150 jam)
- Presentasi dan ujian-ujian (150 jam)
- Latihan presentasi dan tanya jawab
FIlsafat Ilmu
Rabu, 03 Oktober 2012
Milestone S3
Kamis, 27 September 2012
Inovasi Berkomunikasi bagi pengendara motor saat Touring

Kebanyakan pelaku touring menggunakan motor baik itu berboncengan maupun menggunakan kendaraan sendiri-sendiri. Berdasarkan pandangan tersebut, kita bisa menyimpulkan sisi positif dan negatifnya. dan beberapa sisi positif sudah kami uraikan sebelumnya. sedangkan sisi negatifnya adalah bahaya yang mengancam pengendara touring.
Kebanyakan pengendara touring ini melakukan aktifitas mengobrol secara langsung, biasanya obrolan berlangsung dengan berdampingan dan mengambil lebih banyak area jalan. Hal ini tentunya merugikan pengguna lain dan juga mengancam keselamatan diri. Tidak sedikit angka kecelakaan yang terjadi pada peserta touring ini akibat kecerobohan mereka dlm perjalanan touring, dan kebanyakan disebabkan seringny melakukan komunikasi secara langsung dengan peserta lainya.
Untuk itu, kita perlu memikirkan bagaimana caranya kita sebagai pengendara touring dapat berkomunikasi dengan pengendara touring lainya tanpa harus berbicara langsung berdampingan.
Solusi yang saya usulkan adalah helm yang dilengkapi talkie. helm ini mempunyai fungsi sebagai alat komunikasi yang inovatif, yakni mempermudah berkomunikasi secara cepat dengan pembonceng, bahkan kepada pengendara lain saat touring. “Walaupun jaraknya jauh, tetap bisa saling berkomunikasi dengan lancar, tanpa biaya, dan tidak mengurangi fungsi utama sebagai alat pelindung kepala.

Helm Talkie merupakan perpaduan helm yang ada di pasaran dengan alat yang mengunakan frekuensi radio publik sehingga tak berbiaya sepersen pun alias nol rupiah. Helm ini efektif untuk berkomunikasi sampai jarak 300 meter. "Di tempat lapang atau jalan luar kota tanpa penghalang, kemampuannya mencapai jarak 600 meter".
Jumat, 14 September 2012
Teori Keberhasilan Studi S3
Keberhasilan study S3 menurut saya ada 4 macam yaitu Motivasi, Knowledge, Sarana prasarana, Promotor. 4 faktor diatas saling berkaitan satu sama lain. Jika seseorang ingin menempuh studi S3, maka hal yang pertama harus diketahui adalah motivasi. Motivasi ini bersumber niat awal seseorang yang kemudian mengarah pada motivasinya untuk mengambil studi S3 tersebut. Knowledge adalah pengetahuan dasar atau pengetahuan yang harus digali oleh seseorang dalam menempuh S3. Pengetahuan ini bisa didapatkan mulai dia duduk dari bangku sekolah dasar sampai sekarang ini. Sarana dan prasarana sebagai penunjang proses studi juga sangat penting. Misalkan contoh sarana yang penting untuk mahasiswa S3, yaitu; laptop/PC, akses internet, akses jurnal/paper, lab penelitian, dll. Selain itu juga sarana prasarana dalam bentuk pembiayaan, misalkan saja biaya pendidikan dan biaya penelitian yang juga berpengaruh dalam keberhasilan S3. Faktor selanjutnya adalah Promotor, faktor ini sangat penting karena promotor inilah yang akan selalu mengawasi, memotivasi, memberi tambahan pengetahuan, dan juga partner diskusi dalam penelitian S3 kita.
Adapun dari 4 faktor penunjung diatas, ada juga faktor yang menjadi penghambat proses S3 kita, yaitu: kemalasan. Kemalasan ini akan menjadi hal yang akan meruntuhkan 4 faktor penunjang diatas.
Jika kita gambarkan dalam model matematika maka prosentase keberhasilan S3 dirumuskan sebagai berikut
Goal S3 = (M+K+SP+P) / 4 KM
Goal S3 : Prosentase keberhasilan S3 (%)
M : Motivasi
K : Knowledge
SP: Sarana Prasarana
P: Promotor
KM : Kemalasan
Adapun dari 4 faktor penunjung diatas, ada juga faktor yang menjadi penghambat proses S3 kita, yaitu: kemalasan. Kemalasan ini akan menjadi hal yang akan meruntuhkan 4 faktor penunjang diatas.
Jika kita gambarkan dalam model matematika maka prosentase keberhasilan S3 dirumuskan sebagai berikut
Goal S3 = (M+K+SP+P) / 4 KM
Goal S3 : Prosentase keberhasilan S3 (%)
M : Motivasi
K : Knowledge
SP: Sarana Prasarana
P: Promotor
KM : Kemalasan
Kamis, 13 September 2012
Proceeding, Jurnal dan Disertasi untuk Peneltian S3
Tugas untuk FIlsafat Ilmu selanjutnya adalah mencari contoh disertasi, Proceeding, dan Jurnal sesuai dengan bidang / topik penelitian S3. Adapun topik S3 yang akan menjadi penelitian saya adalah tentang "smart home".
Berikut contoh Proceeding, Jurnal dan Disertasi:
Berikut contoh Proceeding, Jurnal dan Disertasi:
- Proceeding
- Software Technologies for Future Embedded and Ubiquitous Systems, 2004. Proceedings. Second IEEE Workshop on
- Software Technologies for Future Embedded Systems, 2003. IEEE Workshop on
- Jurnal
- Title : System architecture for context-aware home application, Author: Sang-Hak Lee, URL: http://dx.doi.org.libproxy.utem.edu.my/10.1109/WSTFES.2004.1300431
- Title : Context-aware implementation based on CBR for smart home, Author: Ting Huai ma, URL: http://dx.doi.org.libproxy.utem.edu.my/10.1109/WIMOB.2005.1512957
- Disertasi
- Title: Context-Aware Smart Home Monitoring Through the Analysis of Pressure Sequence, Author: Arcelus and Amaya, Document Type: Disertation, Document URL:
http://search.proquest.com.libproxy.utem.edu.my/docview/851878553?accountid=34984 - Title : Efficient sensor networks for smart environment, Author: Lee and Huang, Document Type: Disertation, Document URL: http://search.proquest.com.libproxy.utem.edu.my/docview/305007944?accountid=34984
Rabu, 05 September 2012
Nilai dari ijazah / Gelar S3
Nilai ijazah S3
mempunyai arti sangat penting untuk visi dan misi kedepan saya. Arti pentingnya
itu bisa kita dapatkan pada saat proses mendapatkan gelar S3. Dari situlah kita
mendapatkan sesuatu yang sangat besar. Mulai dari pengalaman melakukan
penelitian, ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam yang sesuai dengan bidang
kita.
Ijazah S3 tidak bisa dibandingkan dengan rupiah. Jika ada yang menawarkan, lebih memilih mana antara uang 1 miliyard dengan ijazah S3, tentunya sangat sulit sekali. Untuk menjawabnya, tentunya kita harus menjawab dari sisi mananya. jika dari sisi kesenangan sesaat memang akan tertarik memilih uang 1 miliyard, tetapi jika dari sisi ilmu pengetahuan dan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan di negara kita pasti akan mengambil untuk mendapatkan ijazah S3 tersebut.
Ijazah S3 tidak bisa dibandingkan dengan rupiah. Jika ada yang menawarkan, lebih memilih mana antara uang 1 miliyard dengan ijazah S3, tentunya sangat sulit sekali. Untuk menjawabnya, tentunya kita harus menjawab dari sisi mananya. jika dari sisi kesenangan sesaat memang akan tertarik memilih uang 1 miliyard, tetapi jika dari sisi ilmu pengetahuan dan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan di negara kita pasti akan mengambil untuk mendapatkan ijazah S3 tersebut.
Bayangkan jika
rakyat Indonesia yang mempunyai niat untuk mengambil gelar S3 tetapi niat itu
diurungkan ketika ditawari uang 1 miliyard. Hasilnya bangsa kita akan menjadi
bangsa yang terpuruk dalam ilmu pengetahuan yang mana hidupnya akan menjadi
konsumtif dan tergantung dari Negara lain. Dari situ kita pastinya harus bisa
mengambil sikap, dan mengambil tindakan untuk menyelamatkan pengembangan ilmu
pengetahuan di Negara kita, dan itu harus dimulai dari membangun sikap kita
pribadi. Dan kita harus meyakini bahwa segala sesuatu yang dilandasi ilmu maka
akan memperoleh hasil yang luar biasa.
Langganan:
Postingan (Atom)